Jumat, 27 Maret 2015

cerita-cerita

 Bahagia KATANYA
jumat 27 maret 2015
Dalam kehidupan kita ada banyak perasaan yang tidak bisa kita artikan, kadang kita bahagia tanpa sebab hingga akhirnya tertawa sendiri. bahagia tanpa alasan hmm orang biasanya banyak berkata begitu, namun jika kita fikirkan hal itu salah, setiap kebahagian punya alasan entah dapat uang, dapat pacar baru atau sudah balas dendam hahahahaha.
Bahagia itu perlu, bahagia harus menjadi sebagian dari hidup kita. Kita perlu bahagia, perlu, perlu dan perlu. jangan sampai kita mati dalam kesengsaraan kan tidak enak, sudah hidup sengsara matipun sengsara. Hampir semua orang menjadikan kebahagian orang tua itu adalah prioritas utama dalam hidup mereka. Menurut saya hikmah, hal itu salah, bagaimana mungkin kita bisa membahagiakan orang lain kalau diri sendiri  belum bahagia. Bagaimana mungkin kita bisa membuat orang lain tertawa sedang kita sendiri tertekan.
Ingat hidup itu singkat, sesingkat waktu adzan dan waktu sholat. 19 tahun umur yang mungkin sudah agak sedikit tua. Sepanjang hidup selama 19 tahun ini, ada begitu banyak cerita. Cerita drama episode yang jika di filmkan mungkin hingga saat ini episodenya beribu-ribu. Entah cerita ini masuk dalam hitungan episode berapa.
Sedikit bercerita, tentang seseorang yang belum sempat melihat saya secantik ini seperti saat ini, tentang seseorang yang saya harapkan bisa menjadi saksi nyata pada hari terbahagia saya. Betapa bodohnya ketika harus bertingkah bahagia di depan orang. Betapa sadis ketika orang bertanya atau bercerita tentang sosok seperti dia dan saya pun harus berdongeng, berkhayal tentang dia padahal kami sudah lama hidup berjauhan. mungkin saya ingin berbicara sedikit ......?????
"heyy ayah, jgn buat saya terus memikirkan hal yg tidak mungkin, jgn selalu muncul dan tersenyum, jgn selalu jadi pahlawan dalam mimpi saya. anda tahu betapa berubahnya kehidupan kami tanpa anda. anda lihat mama yang harus menghabiskan sisa umurnya dalam kesendirian, anda tahu terkadang dia diam-diam merindukan anda. mama tidak membenci dan kakak fatma, maafkan dia, sekiranya anda telah bersamanya, dia tidak pernah berniat menyakiti anda dahulu, cuman itulah takdirnya. heyy ayah anda tahu kakak yudi dia berhasil masuk polisi seperti mimpi anda dahulu. dan saya sekarang sudah kuliah, anda tahu saya berhasil tembus di universitas yg lumayan membanggkan, anda pasti ingat saya pernah berjanji dan bermimpi didepan anda. asmar-rahmat mereka berdua sudah mulai dewasa. anda pasti rindu, semua orang merindukan anda. ayah mama kesepian, di rumah sepanjang hari hanya sendiri, jika anda bertanya mengapa tidak ada yang menemaninya ataukah mungkin anda berfikir kami mulai melupkannya. bukan begitu, kehidupaan tidak seperti dahulu lagi, semuanya telah punya hidup dan telah punya keluarga sendiri. sekarang saja hampir bertahun-tahun kami tidak berjumpa. walaupun komunikasi tetap lancar tapi begitulah kita tidak seperti dahulu lagi. ayah saya sempat berfikir  mengenai sebuah kalimat "andai menyusul mu bukan sebuah dosa", jika anda berfikir saya telah bahagia, anda salah, saya benar-benar menderita, benar-benar merasa sesak. ayah saya ingin mengucapkan ini "selamat jalan, selamat tinggal, mohon bantu saya mencapai kebahagiaan, bantu saya, bimbing saya, tunjukkan saya selalu jalan yang baik, jangan segan-segan menegur saya jika saya lupa dengan aturan hidup, bantu saya menemukan kebahagiaan". disana saya yakin anda baik-baik saja.
Duka dan bahagia, dua hal ini terus bergandengan, jika hari ini senyum, entah beberapa hari atau bahkan menit kita akan menangis. saya terus bertanya, mungkinkah saya masih bisa bahagia sedangkan hal yang akan membuat saya bahagia telah diambil duluan. hingga sampai hari ini, saya masih terus saja mencari kebahagiaan. jika kebahagiaan itu ada pada seseorang, saya akan merebutnya, walaupun harus menangis dahulu. saya tidak ingin mati dalam sedih, saya ingin mati dalam kebahagian. saya kira bahagia adalah hak kita. saya masih berjuaang untuk bahagia, tuhan akan mengantarkan saya pada kebahagiaan saya. "Tuhan lihat mimpi saya, tolong buat saya bersama, buat saya menyatu, tolong lihat perjuaangan dan pengorbanan saya, sekiranya semua bukan hal biasa. bantu saya memperbaiki diri, tuntun saya pada kesuksesan. jika bukan padamu, kemana lagi kami akan pergi" allahu akbar, Bismillah

MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN INDONESIA



 JUMAT 27 MARET 2015
HIKMAH, ARKEOLOGI UNIVERSITAS HASANUDDIN
F61113009
MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN INDONESIA
Hubungan antara manusia, lingkungan, dan kebudayaan
Seperti kita ketahui manusia, lingkungan serta kebudayaan merupakan tiga unsur yang mempunyai peran masing-masing tetapi tiga unsur ini masih saling terkait satu sama lain. Dalam tiga unsur ini yang paling penting  adalah manusia.
  Manusia adalah mahluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Allah dan diberi akal untuk menjalankan kehidupan di bumi. Akal inilah yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Manusia  berperan penting dalam segala proses kehidupan.bisa dikatakan manusia merupakan tokoh utama dalam setiap sudut kehidupan.
Dalam setiap aktivitas manusia, tidak terlepas dari peran lingkungan yang ada disekitarnya. Lingkungan berperan untuk menunjang kelanjutan hidup dari manusia. Lingkungan atau alam merupakan sumber utama manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Lingkungan juga mempengaruhi cara bertahan hidup manusia, contohnya didaerah pegunungan manusia bergantung pada alam sekitarnya dengan cara membuka lahan untuk bertani dan berladang dan juga didaerah pegunungan biasanya penduduk memakai baju yang lebih tebal karena biasanya didaerah pegunungan suhunya agak dingin. Sedang manusia yang hidup didaerah pesisir biasanya lebih memfokuskan diri pada mata pencaharian sebagai nelayan dan di daerah pesisir manusia biasanya memakai baju yang agak tipis karena hawa didaerah pesisir panas.
Dari uraian diatas bisa dikatakan lingkungan mempunyai arti penting untuk manusia agar tetap dapat bertahan hidup. Lingkungan mempengaruhi terbentuknya kebudayaan. Dalam buku yang saya baca PENGANTAR ANTROPOLOGI (I GEDE A.B WIRANATA,S.H.,M.H), kebudayaan adalah keseluruhan kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat ( E.B TYLOR: 1871). Pengertian kebudayaan diatas menunjukkan bahwa kebudayaan juga berkaitan dengan manusia dan lingkungannya. Secara singkat kebudayaan adalah kebiasaan. Kebudayaan tidak akan tercipta jika manusia dan lingkungan tidak ikut berperan didalamnya. Kebudayaan tercipta karena dipengaruhi oleh lingkungan yang ada disekitar kita.
 Inilah yang menjadi tolak ukur hubungan manusia, lingkungan serta kebudayaannya yang saling berpengaruh satu sama lain.

DATA DALAM ARKEOLOGI



JUMAT 27 MARET 2015
Data Arkeologi
Data arkeologi merupakan informasi murni yang belum ditafsirkan, diubah, atau dimanipulasi yang didapat oleh peneliti dari hasil pengamatan terhadap tinggalan arkeologi.
            Bentuk Data Arkeologi
• Data Historis, yaitu data arkeologi yang berupa tulisan, misalnya: prasasti, sumber-sumber sastra dan lain sebagainya.
• Data Non-Historis, yaitu tinggalan manusia yang pernah dibuat, dipakai, dibuang tanpa adanya tulisan, misalnya: alat-alat batu, gua dan lain sebagainya.
             Sifat Data Arkeologi
• Movable Data, yaitu data yang dapat dipindahkan, misalnya: arca, alat-alat batu dan lain sebagainya.
• Non-Movable Data, yaitu data yang tidak dapat dipindahkan, misalnya: candi, pertirtaan, gua dan sebagainya.
            Macam Data Arkeologi
• Artefak, yaitu hasil buatan manusia dari pengubahan benda alam baik sebagian maupun keseluruhan, misalnya: prasasti, arca, alat-alat batu dan perunggu dan lain sebagainya.
• Fitur, yaitu artefak yang tidak dapat dipindahkan tanpa merusak tempat kedudukannya (matrix), misalnya: candi, masjid, gua dan lain sebagainya.
• Ekofak, yaitu benda dari unsur alam yang pernah digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia, misalnya: sungai, bentang lahan dan lain sebagainya.
   
                                                                                                                                               HIKMAH ARKEOLOGI UNIVERSITAS HASANUDDIN
                                                                                                                                             

SEPUTAR ARKEOLOGI



NAMA: HIKMAH
ARKEOLOGI UNIVERSITAS HASANUDDIN
JUMAT 27 MARET 2015
SISTEM DALAM ARKEOLOGI
Di dalam cakupan kajian (lapangan studi) arkeologi, dikenal beberapa tingkatan sistem
yang satu sama lain saling terkait, sebagaimana tergambar pada bagan alir di bawah ini:
Keterangan:
• Living system, merupakan sistem di mana objek-objek material (artefak) masih
berada di dalam sistem budaya masyarakat pendukungnya. Objek tersebut dibuat dan
difungsikan sesuai dengan konsep yang mereka miliki, sampai akhirnya tidak
digunakan lagi atau hilang dan terdeposisi di suatu tempat. Penggambaran living
system masa lampau melalui sisa-sisa budaya materi yang ditinggalkan pendukungnya
merupakan tujuan umum Arkeologi Historiografi.
• Taphonomic system, merupakan sistem yang berlangsung sejak suatu objek
terdeposisi hingga ditemukan kembali oleh arkeolog. Berbagai proses yang berlangsung
dalam sistem ini, baik proses budaya maupun alam, akan menghasilkan perubahan
kondisi yang sangat mencolok. Dengan demikian, sistem tafonomi merupakan lapangan
studi yang sangat penting karena dapat menentukan besar-kecilnya bias yang muncul
dari kesimpulan para arkeolog atas objek yang ditemukan dan dikajinya.
• Retrieval system, merupakan upaya menemukan kembali objek-objek arkeologis
sebagai data/pijakan untuk menggambarkan kembali kehidupan manusia yang
melatarbelakangi keberadaannya (living system), serta berbagai proses yang
berlangsung setelah benda tersebut terdeposisi (taphonomic system). Dengan kata
lain, retrieval system merupakan tahapan awal bagi pencapaian tujuan Arkeologi
Historiografi. Di lain pihak, hasil suatu retrieval system juga perlu dikonservasi untuk
kemudian dikembangkan dan dimanfaatkan bagi kehidupan sekarang melalui
pengelolaan yang benar. Dengan demikian, kegiatan penemuan kembali benda-benda
arkeologis merupakan penghubung antara kehidupan yang pernah berlangsung pada
masa lalu dengan kepentingan kita di masa sekarang dan mendatang. Sistem ini
berlangsung melalui tiga tahapan kegiatan, yaitu Observasi, Deskripsi, dan Interpretasi
Eksplanasi.
• Conservation System dan CRM system, merupakan bagian dari Arkeologi
Konservasi yang dapat diartikan sebagai cabang arkeologi yang mencoba untuk
mempreservasi dan mengelola objek arkeologis untuk berbagai kepentingan
akademis-praktis di masa sekarang dan mendatang.
        Sebagai bagian dari tahap observasi, ekskavasi merupakan kegiatan yang sangat khas
bagi arkeologi. Begitu eratnya kaitan antara “arkeologi” dengan “ekskavasi” pada
kenyataannya mampu menghadirkan image bahwa ekskavasi merupakan salah satu
“identitas” arkeologi. “Arkeolog” dengan sendirinya identik dengan “ekskavator”.
     Hal ini diperkuat melalui pernyataan Grahame Clark, bahwa: "the archaeologist with little or no experience of excavation is ill qualified to interpret the result of other people's digging".
Pendapat di atas sangatlah tepat karena arkeologi jelas berurusan dengan berbagai
bentuk tinggalan manusia masa lalu yang karena berbagai proses alam maupun
budaya, selama kurun waktu yang sangat panjang akhirnya terpendam di dalam tanah
dan sebagian tersebar di permukaan tanah. Objek arkeologis yang diperoleh melalui
ekskavasi sangat penting karena pada umumnya lebih terpreservasi dan tidak terlalu
teraduk jika dibandingkan dengan objek-objek arkeologis di permukaan. Melalui ekskavasi
inilah para arkeolog berusaha membuka kembali “rekaman” kehidupan manusia masa lalu
melalui sisa-sisa aktivitasnya yang masih terawetkan sampai sekarang, dengan
memperhatikan proses transformasi sejak materi tersebut terdeposisi hingga ditemukan
kembali.
          Untuk memahami seberapa besar peran ekskavasi di dalam proses kerja arkeologi,
pandangan kaum Behavioralist mengenai tiga ranah penelitian arkeologi (three research
domains) pantas untuk disimak. Ketiga ranah yang dimaksud adalah: Pertama,
menjawab pertanyaan how, yaitu "How did a particular configuration of objects come to
be where they are presently observed ?". Pertanyaan ini berhubungan dengan proses
pembentukan data arkeologi; Kedua, menjawab pertanyaan where, what, dan when,
yang berhubungan dengan upaya untuk merekonstruksi, mengidentifikasi, dan
menggambarkan tingkah laku manusia pada masa lalu; Ketiga, menjawab pertanyaan
why, yang berhubungan dengan penjelasan tentang tingkah laku manusia masa lalu.
Ranah pertama tidak pernah disebut secara eksplisit dalam paradigma arkeologi.
               Bahkan dalam rumusan definisi arkeologi pun hanya disebut mengenai description and explanation of human behavior. Padahal jawaban atas pertanyaan tersebut sangat tergantung atas
bagaimana peneliti mengetahui proses pembentukan data yang dipakai sebagai titik tolak
kajiannya. Proses-proses yang mempengaruhi pembentukan data arkeologi beserta akibatakibat
yang ditimbulkannya perlu diidentifikasi dan dikenali sebelum kesimpulan tentang
tingkah laku manusia dan budaya masa lalu dihasilkan. Tanpa memperhatikan hal-hal
tersebut, kesimpulan yang dihasilkan oleh para arkeolog akan banyak diwarnai bias. Data
arkeologi itu sendiri pada dasarnya merupakan hasil akumulasi sejumlah besar bias. Ketika
ditemukan pada saat sekarang,
         objek-objek arkeologis tidak dapat langsung menginformasikan kepada kita tentang kondisi masa lalu secara menyeluruh. Cara untuk memahaminya adalah dengan mengetahui bagaimana kondisi objek tersebut terbentuk, mengalami perubahan, sehingga menampakkan ciri-ciri seperti yang kita lihat sekarang. Terjadinya bias pada objek arkeologis tidak dapat dihindari, karena kenampakan objek yang tertangkap mata arkeolog merupakan hasil proses tingkah laku manusia (baik disengaja maupun tidak disengaja) dan proses alam yang masing-masing menghasilkan
bentuk-bentuk transformasi data. Oleh karenanya, kesadaran akan adanya bias dan
bentuk-bentuk proses transformasi yang menghasilkannya sangat diperlukan sebelum
inferensi dilakukan. Daniels (1972), mengelompokkan faktor-faktor penyebab bias menjadi tiga, yaitu historical factors, post-depositional factors, dan research factors. Historical factors meliputi semua faktor penyebab yang berasal dari cara hidup pembuat dan pemakai artefak, lingkungan
sekitar, serta reaksi mereka terhadapnya. Post-depositional factors mencakup semua
sebab yang merubah kedudukan atau posisi objek setelah ditinggalkan oleh pemakainya
sampai ditemukan kembali oleh arkeolog.
                Adapun research factors adalah faktor-faktor yang berasal dari peneliti sendiri, mulai tahap retrieval hingga publikasi. Sejalan dengan pengelompokan di atas, selama ini juga dikenal adanya dua kategori konteks dalam pandangan transformasi, yaitu Konteks Sistem dan Konteks Arkeologi. Menurut Reid (1995), Konteks Sistem merupakan sistem tingkah laku di mana objek –objek material menjadi salah satu bagiannya. Konteks ini merupakan sistem sosio-kultural
yang masih hidup, yang meninggalkan rekaman dalam bentuk objek-objek material
beserta asosiasinya yang diperoleh pada masa sekarang. Konteks Sistem ini mencakup
fenomena masa lalu yang berusaha direkonstruksi dan dijelaskan oleh arkeolog.
Sedangkan Konteks Arkeologi merupakan rekaman arkeologis dari masa sekarang, yang
mengandung sifat-sifat formal, spasial, kuantitatif, dan relasional dari objek-objek kultural
dan non-kultural.
       Objek-objek yang berada dalam Konteks Arkeologi merupakan hasil
hubungan timbal balik antara tingkah laku manusia dan materi (behavioral correlate)
dengan tingkah laku budaya dan non budaya (C-Transforms dan N-Transforms) yang
membentuk data arkeologi. Hubungan antara ketiga sumber bias yang sudah dipaparkan
di atas dengan kedua jenis konteks ini dapat dipakai untuk merekonstruksi tingkat bias
pada data arkeologi .

ETNOARKEOLOGI Artikel “Refleksi Sistem Religi Pada Peninggalan Megalitik Di Tana Toraja” (Studi Etnoarkeologi) Oleh: Muhammad Nur, Universitas Hasanudin



ETNOARKEOLOGI
NAMA            : HIKMAH
NIM                : F61113009
DOSEN           :  YUSRIANA S.S M.A
Oleh: Muhammad Nur, Universitas Hasanudin
1.     Ikhtisar
Dalam adat Toraja hingga saat ini masih ditemukan situs megalitik (batu besar), yang mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat toraja. Megalitik merupakan zaman di mana mulai muncul berbagai kepercayaan. Ada 2 sistem kepercayaan dalam masyarakat toraja yang masih dianut hingga sekarang. Pertama yaitu adanya kehidupan setelah mati. Konsep kepercayaan ini kemudian dituangkan dalam upacara kematian (Rambu solok). Upacara ini bertujuan untuk keselamatan arwah leluhur di alam puya dan manusia yang di dunia. Kedua yaitu kepercayaan terhadap arwah leluhur, konsep kepercayaan ini kemudian dituangkan dalam bangunan megalitik sebagai alat penghubung dengan arwah para leluhur. Hal ini juga berhubungan dengan kepercayaan masyarakat bahwa dengan menghormati arwah para leluhur, akan menentukan kesuburan dan keberhasilan tanaman mereka.
Studi etnoarkeologi yang dikembangkan dalam arkeologi bertujuan memecahkan permasalahan arkeologi melalui analogi etnografi. Pada studi etnoarkeologi terdapat 2 macam pendekatan yaitu pendekatan berkesinambungan sejarah budaya (direct historical approach) dan pendekatan perbandingan umum ( general comparative approach). Dalam artikel ini pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan kesinambungan sejarah budaya (direct historical approach). Pandangan ini didasari pada pandangan bahwa budaya yang ada sekarang merupakan perkembangan budaya dahulu.
2.     Review
Pengertian megalitik menurut Soejono ( 1984:205) mega berarti besar dan lithos berarti batu. F.A. Wagner (1962 :72) memberikan pendapat bahwa konsep megalitik sebenarnya bukan hanya mengacu pada batu-batu besar, karena batu kecil bahkan tanpa monumen sekalipun, dapat dikatakan sebagai budaya megalitik.  Hal ini didasarkan pada maksud dan tujuannya berkaitan dengan pemujaan arwah leluhur. Pada akhirnya pendapat F.A Wagner ini memperluas cakupan bahasan tentang kebudayaan megalitik yang diarahkan pada sistem kepercayaan.
Di Indonesia dari hasil penelitian dapat diketahui beberapa bentuk peninggalan megalitik seperti dolmen, menhir, teras berundak, arca megalitik, tahta batu, altar batu, lumpang batu, batu dakon, batu bergores, susunan temu gelang dan berbagai bentuk penguburan seperti peti batu, bilik batu, waruga, kalamba, sarkopagus, liang batu, batu pahat (Soejono, 1984:205-238). Hal yang membuat kebudayaan ini menarik karena bentuk-bentuk monumen tersebut selalu menunjukkan perbedaan bentuk dan fungsi pada setiap culture area.
Salah satu daerah di Indonesia yang masih melanjutkan tradisi megalitik adalah Suku Toraja (Heine Geldern, 1945:129, Soejono, 1984:304-312) di Sulawesi Selatan.  Beberapa peneliti yang telah melakukan penelitian yang memberikan gambaran bahwa daerah Tana Toraja sangat potensial secara arkeologis untuk diteliti lebih mendalam, terutama yang berkaitan dengan budaya megalitik dengan ditemukannya berbagai bentuk peninggalan seperti menhir, keranda mayat serta tradisi yang masih bertahan sampai sekarang.
·       Studi etnoarkeologi
Dalam studi etnoarkeologi, dikenal dua macam pendekatan yaitu pendekatan kesinambungan sejarah budaya (direct historical approach). Pendekatan ini berdasarkan pada budaya yang masih berjalan sekarang atau masih dapat kita lihat adalah merupakan perkembangan budaya pada masa lalu. Oleh karena itu, pendekatan ini akan berarti jika data etnoarkeologi dengan data arkeologi saling berkaitan sejarahnya. Oleh karena itu penelitian etnohistori sangat diperlukan. Pendekatan kedua yaitu pendekatan perbandingan umum (general comparative approach), pendekatan ini didasari oleh pandangan bahwa hubungan antara budaya materi dengan pendukungnya telah punah dengan budaya materi yang ada sekarang mempunyai persamaan bentuk masih dapat dilakukan meskipun tidak mempunyai kaitan sejarah ruang maupun waktu.
Seperti yang telah dijelaskan dalam artikel, model penelitian dalam arkeologi dengan analogi etnografi (etnoarkeologi) hanyalah merupakan salah satu alternative tentunya model ini juga mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut berdasarkan pertimbangan :
1.     Jarak waktu yang panjang antara masa lalu (konteks sistem) dengan masa ditemukannya peninggalan budaya (konteks arkeologi), yang dapat memungkinkan terjadinya pergeseran-pergeseran nilai di dalamnya;
2.     Satuan populasi pendukung tinggalan budaya tersebut sudah tidak ada lagi;
3.     Walaupun berada pada suatu lokasi dan tradisi yang sama, namun pemaknaannya belum tentu sama;
4.     Bahwa satu kebudayaan materi yang ditemukan merupakan akibat suatu tindakan dari manusia masa lalu.
Dalam hal ini penggunaan analogi etnografi dalam arkeologi harus teliti dan dengan pertimbangan metodologis yang baik.
·       Data arkeologi
Pada artikel ini daerah yang kemudian menjadi sampel yaitu situs Sillanan yang terletak di Desa Sillanan, Kecamatan Mengkendek. Terdapat enam lokasi megalitik dalam situs Sillanan yaitu lokasi Tongkonan Layuk, lokasi Pakpuangan, lokasi Rante Simbuang, lokasi Bubun, lokasi Rante Sarapuk, dan lokasi Liang. Bentuk-bentuk peninggalan budaya megalitik yang terdapat pada situs-situs tersebut antara lain menhir (kelompok dan tunggal), lumpang batu, karopik, pagar batu, altar batu, tahta batu, umpak-umpak batu, kubur batu (liang), fragmen gerabah, dan teras berundak, dengan distribusi temuan secara terpola.
Situs ini menyimpan banyak peninggalan megalitik yang memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda, hal yang paling menarik dalam situs ini adalah terdapat indikasi hunian (pemukiman). Indikasi pemukiman tersebut tampaknya masih ada kesamaan dengan pemukiman tradisional yang ada disekitar Pusat Tongkonan. Masyarakat Toraja hingga saat ini masih percaya terhadap arwah leluhur, inilah yang menjadi pendukung tradisi megalitik yang ada di Toraja masih berlangsung hingga saat ini.
3.     Ruang lingkup penelitian
Dalam artikel ini “Refleksi Sistem Religi Pada Peninggalan Megalitik di Tana Toraja” ruang lingkup penelitian merupakan salah satu aspek terpenting sebagai data penunjang penelitian. Disamping adanya dua model pendekatan dalam etnoarkeologi yang telah dijelaskan diatas, terdapat pula syarat umum yang dapat diberlakukan baik pada model kesinambungan budaya maupun perbandingan umum. Dua syarat tersebut adalah kesamaan dalam konsep yang mengacu pada kesatuan peneeitian tentang istilah-istilah yang akan digunakan dan kesamaan dalam satuan analisis kembali dalam ruang atau distribusi maupun tingkat taksonomi.
Satu aspek lain yang amat penting dalam studi etnoarkeologi adalah penerapan penalaran analogi itu sendiri. Seperti telah diketahui bahwa studi etnoarkeologi pada hakekatnya adalah suatu analogi. Hasil penelitian kepustakaan tentang studi etnoarkeologi telah mendapatkan suatu kerangka tolok ukur untuk membahas hasil-hasil studi etnoarkeologi, khususnya di Indonesia. Apabila diiktisarkan salah satu hasilnya  berdasarkan lingkup penelitian, peran dalam penalarannya, dan dalam model pendekatannya  yaitu:
Berdasarkan lingkup penelitiannya:
1.     Lingkup Rekonstruktif yang bertujuan menemukan pola tingkah laku, berarti masih dalam sistem budaya, yang berada dibelakang gejala arkeologis tertentu. Hasilnya : tatacara pembuatan, penggunaan suatu benda tertentu, latarbelakang pengetahuannya, pola matapencaharian atau adaptasi lingkungan tertentu.
2.     Lingkup Taphonomis yang bertujuan menemukan pola kejadian yang melatarbelakangi atau menyebabkan terbentuknya data arkeologis tertentu, misalnya proses pengendapannya, distribusi alamiahnya, proses kehanouran data arkeologis hingga kondisinya ditemukan oleh para ahli arkeologi. Jadi merupakan proses alamiah terbentuknya data arkeologi.
3.     Lingkup Strategis yang bertujuan menemukan model sebagai kerangka acuan untuk proses penelitian arkeologi, misalnya untuk merancang sampling, tipologi, menentukan luas penelitian, dan sebagainya.
Berdasarkan peran penalarannya:
1.     Sebagai interpretasi-eksplanasi : peran ini berkaitan erat dengan lingkup rekonstruktif karena data etnografi digunakan sebagai bahan penjelasan dan rekonstruksi pola tingkah laku yang melatarbelakangi data arkeologi.
2.     Sebagai pembentuk atau penyaran hipotesis : data etnografi akan dapat menyumbangkan hipotesis saja dan hipotesis ini harus diuji kembali pada data bebas, balk data etnografi yang lain maupun data arkeologi.
3.     Sebagai penilai hipotesis : hasil penelitian etnoarkeologi dapat dipakai untuk mengevaluasi hipotesis-hipotesis yang dihasilkan dari interpretasi data arkeologi, sehingga dapat membenarkan atau menggugurkan hipotesis tersebut. 
Berdasarkan syarat-syarat model pendekatannya:
1.     Model kesinambungan budaya mensyaratkan adanya kelangsungan sejarah atau budaya antara data arkeologi dan data etnografi.
2.     Model perbandingan umum yang mensyaratkan adanya kesamaan lingkungan dan bentuk budaya antara data arkeologi dengan data etnografi. ( pdf penerapan etnoarkeologi di Indonesia, Daud Aris Tanudirjo).
4.     Peran penalarannya:
 Beberapa bentuk penalarannya dalam tradisi megalitik di Toraja yaitu :
1.     Upacara Rambu Solok ( upacara kematian).
Secara umum tujuan dari upacara Rambu Solok adalah untuk keselamatan arwah leluhur di alam puya dan kesejahteraan serta keselamatan manusia di dunia. Dalam pelaksanaan jenis upacara tersebut dipergunakan berbagai sarana termasuk beberapa peninggalan budaya megalitik yang dapat tahan lama, seperti menhir, lumpang batu, dan karopik. Berdasarkan fungsinya dapat diketahui jenis peninggalan yang dipergunakan sebagai sarana pemujaan untuk keselamatan arwah leluhur di alam puya, yaitu menhir jenis pesungan banek, menhir jenis simbuang, lumpang batu, karopik, dan kandean dulang. 
Tujuan dari penguburan erat kaitannya dengan kepercayaan akan kehidupan setelah mati, yang menyebabkan manusia untuk menguburkan mayatnya dengan maksud untuk melestarikan arwahnya di alam baka. Latar belakang konsepsi kepercayaan tersebut telah mendorong masyarakat Toraja pada masa lampau untuk menguburkan anggota keluarga atau masyarakatnya dengan sebaik-baiknya. Pelaksanaan penguburan tersebut dilakukan dengan penguburan pada beberapa jenis kubur baik secara langsung (kubur primer) maupun secara tidak langsung (kubur sekunder), baik yang mempergunakan wadah tertentu seperti erong maupun tanpa wadah seperti pada kubur jenis Sillik.
Di Sillanan orang yang meninggal dunia dikuburkan di Liang dengan mempergunakan beberapa jenis kubur, baik yang mempergunakan wadah seperti erong maupun tanpa wadah, sesuai dengan status sosialnya masing-masing. Hal ini sesuai dengan aturan adat yang bersumber dari Aluk Todolo, demi keselamatan arwah sampai ke alam puya. Jenis Liang Sillik diperuntukkan bagi strata sosial yang berasal dari Tanak Kua-Kua (strata sosial rendah), yaitu penguburan pertama tanpa menggunakan wadah tertentu. Sedangkan strata sosial menengah dan tinggi, dikuburkan pada jenis Liang Erong, Liang Tokek, Liang Pak, dan Patane, yang mempergunakan wadah erong, baik yang berfungsi untuk penguburan pertama maupun untuk penguburan kedua.
Penguburan kedua hanya berlaku bagi para bangsawan tinggi dan keluarganya. Hingga saat ini upacara Rambu Solok masih sering dilaksanakan. Hal ini juga yang menjadi daya tarik utama para wisatawan ramai datang berkunjung ke Toraja untuk melihat secara langsung upacara ini.
2.     Kepercayaan terhadap arwah leluhur (budaya megalitik).
Secara umum inti dari konsep kepercayaan terhadap arwah leluhur adalah kepercayaan akan pengaruh kuat dari arwah leluhur terhadap kesuburan tanaman dan keberhasilan panen serta kesejahteraan manusia di dunia. Sebagai sarana penghubung antara manusia dan para arwah leluhur, mereka kemudian melaksanakan tradisi megalitik. Melalui upacara-upacara tertentu, arwah leluhur dianggap dapat hadir ke dalam bangunan megalitik tersebut untuk dimintai pertolongan misalnya dapat membantu menolak bala dan mengusir roh-roh jahat yang dapat mengganggu kehidupan manusia, menyuburkan tanaman dan meningkatkan keberhasilan panen, menjaga keselamatan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sebagainya.
Di Sillanan Toraja terdapat beberapa peninggalan megalitik yang erat kaitannya dengan kepercayaan terhadap arwah leluhur yaitu menhir yang terdiri dari beberapa jenis (basse, tumpuang, pesungan banek, simbuang), karopik, susunan batu temu gelang, altar batu, lumpang batu, tahta batu, teras berundak, dan kandean dulang. Berdasarkan fungsi masing-masing temuan tersebut seperti telah diuraikan di atas, dapat diketahui peranannya masing-masing yaitu kesemuanya berkenaan dengan pemujaan terhadap arawah leluhur.
Berdasarkan pada data etnografi dapat diketahui tentang kekuatan (obyek) yang dipuja yaitu dewa-dewa yang dapat dibagi atas tiga yaitu :
1.     Dewa tertinggi yang disebut Pong Matua yaitu dewa yang menciptakan     kehidupan manusia dan alam, dewa pada tingkat.
2.     Deata - deata bertugas sebagai pelindung manusia di dunia, dewa pada tingkat
3.     To Membali Puang, bertugas sebagai pengawas kehidupan manusia di dunia.  Dalam pemujaan ketiga dewa ini, dilakukan dengan cara yang berbeda - beda.
5.     Model pendekatan
Model yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kesinambungan sejarah-budaya (direct historical approach). Pemilihan pendekatan tersebut, berdasarkan pada pertimbangan :
1.     Adanya kesinambungan sejarah-budaya antara peninggalan budaya fisik dengan sistem sosio-kultural masyarakat pembandingnya;
2.     Adanya kesamaan bentuk budaya dan lingkungan fisik;
3.     Sikap konservatif masyarakat pembandingnya akibat keterisolasian secara geografis;
4.     Secara historis pengaruh agama Islam dan Kristen tidak terlalu mengakar dalam masyarakat, sehingga sistem kepercayaan lokal tetap kuat berperan dalam masyarakat sebagai pendukung kelanjutan tradisi megalitik.
Dalam pengumpulan data etnografi dipergunakan metode observasi, yaitu pengamatan secara langsung dan wawancara. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam secara internal, dipergunakan pendekatan emik dan empati (peneliti adalah bagian dari komunitas tersebut) sehingga dapat diketahui aspek-aspek kognitif dan elemen-elemen spiritualnya.
Sumber:
·        Pdf penerapan etnoarkeologi di Indonesia, Daud Aris Tanudirjo)